Indonesia Menuju Bonus Pengalaman (Senior Citizen) Nasional
Indonesia sedang memasuki era baru dalam perjalanan demografinya. Indonesia kini tidak lagi hanya tentang bonus demografi usia produktif, tetapi juga ada sebuah kekuatan besar yang selama ini belum sungguh-sungguh kita kelola, yakni bonus pengalaman.
Berdasarkan data Statistik Penduduk Lanjut Usia 2025 yang dilansir Badan Pusat Statistik Republik Indonesia, proporsi lansia di Indonesia telah mencapai 11,93 persen dari total populasi penduduk, atau berkisar 34 juta jiwa.
Menurut rilis BPS RI tersebut, bahwa ternyata sejak 2021 Indonesia telah memasuki struktur penduduk tua. Bahkan proyeksi pada 2050 mendatang, populasi lansia diperkirakan mencapai 20,9 persen atau sekitar 72 juta jiwa.
Angka ini cara memandangnya bisa dengan dua cara. Pertama, jika dilihat dengan perspektif konvensional, maka ia tampak sebagai beban sosial. Sepeti meningkatnya kebutuhan perlindungan, kesehatan, bantuan, dan ketergantungan.
Sebagaimana telah tersinyal menurut data BPS 2025, rasio ketergantungan lansia sebesar 11,00. Yaitu setiap 100 penduduk usia produktif menanggung kehidupan sekitar 11 penduduk lansia.
Kedua, jika dilihat dengan perspektif kepemimpinan, angka ini sejatinya menyimpan sebuah kekuatan. Di balik usia yang bertambah, ada daftar pengalaman yang belum terdokumentasikan menjadi sebuah pengetahuan. Ada jejaring yang telah terjalin selama perjalanan kehidupan yang belum selesai dihubungkan. Ada otoritas sosial yang belum digerakkan menuju jalan pembangunan.
Dan, ada waktu luang yang bisa dikonversi menjadi aksi dan kontribusi untuk menyelesaikan berbagai bentuk masalah sosial.
Kalau dipikir-pikir, masalahnya bukan semata-mata bertambahnya jumlah lansia. Masalah utamanya justru adalah belum adanya "engine" yang mampu memetakan, mengorganisir, mengaktivasi, memobilisasi, dan menghubungkan potensi lansia (senior citizen; sebuah sebutan yang lebih terhormat kita menyebutnya) dengan agenda pembangunan nasional atau masalah sosial.
Sampai hari ini pun, nampaknya percakapan publik tentang lansia masih berkutat pada narasi kerentanan. Lansia sebatas dianggap sebagai kelompok penerima bantuan, bukan pemilik sumber daya.
Padahal, mayoritas senior citizen ternyata masih menyimpan "modal" sosial yang besar. Dalam rilis BPS, sebanyak 67,15 persen lansia masih memiliki pasangan. Kemudian sebanyak 53,98 persen masih menjadi kepala keluarga. Masih banyak yang tinggal dalam keluarga lintas generasi. Artinya, mereka masih punya pengaruh, otoritas, dan posisi sosial yang kuat di dalam keluarga maupun masyarakat.
Meskipun kita tetap harus menerima fakta hari ini, bahwa pada aspek pendidikan formal, lansia di Indonesia masih didominasi oleh kelompok berpendidikan rendah. Total yang menamatkan SMA dan pendidikan tinggi tidak sampai 20%
Namun, kita perlu jujur juga, kebijaksanaan tidak selalu lahir dari ijazah. Sebab ijazah adalah tanda seorang pernah sekolah, bukan tanda seseorang pernah atau benar cara berfikirnya, mengutip-kembangkan kalimat Rocky Gerung..he :)
Ada pengetahuan yang lahir dari sawah, pasar, kantor, ruang kelas, rumah ibadah, organisasi, korporasi bisnis, dan perjalanan hidup yang panjang.
Terlalu banyak ilmu yang tidak tertulis dalam kurikulum, tetapi hidup dalam ketekunan, kegagalan, keberhasilan, dan pengabdian dalam kehidupan telah memberikan suatu pelajaran kepada para senior citizen yang apabila didokumentasikan dan diformulasikan akan menjadi sebuah gagasan, model, konsep dan bahkan ilmu pengetahuan.
Karena itu, senior citizen tidaklah layak hanya ditempatkan sebagai objek pembangunan. Mereka faktanya (bukan masih) memiliki modal sebagai subjek pembangunan.
Jika dimobilisasi dengan tepat, di ruang yang tepat, menuju arah yang tepat dan aksi yang tepat, senior citizen dapat menjadi modal pembangunan yang memiliki dampak signifikan. Sebutlah saja yang sederhana, menjadi mentor dan coach keahlian untuk pembangunan SDM.
Senior Citizen dapat menjadi advisor UMKM, pembuka akses pasar, bahkan pencipta lapangan kerja. Mereka dapat menjadi penyedia akses aset produktif, penjaga nilai, penjaga budaya, social engineer, dan kontrol sosial di tengah masyarakat.
Kita tengok fakta lagi, masih menurut data BPS RI, lansia muda usia 60-69 tahun masih mendominasi populasi lansia. Banyak di antara mereka masih sehat, aktif, berjejaring, dan memiliki dorongan untuk tetap relevan di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pertanyaan reflektifnya bukan lagi, “Apa yang harus negara berikan kepada lansia?”
Pertanyaan yang relevan adalah, “Ruang kontribusi apa yang dapat kita siapkan agar bonus pengalaman dari senior citizen bisa dikonsolidasikan, diberi ruang untuk kembali melanjutkan makna kehidupan, relevansi, dan legacy?”
Karena pada usia senior, kebutuhan terdalam manusia adalah mencari makna hidup. Mereka ingin tetap dibutuhkan dan ingin meninggalkan jejak kebaikan untuk generasi selanjutnya. Mereka ingin waktu yang masih tersedia tidak hanya menjadi masa tunggu, tetapi masa kontribusi.
Bayangkan, jika hanya 10 persen saja dari populasi lansia Indonesia dapat dimobilisasi berarti ada 3,4 juta orang yang dapat berkontribusi bagi pembangunan nasional. Jika setiap orang menyumbangkan waktu saja 4 jam per pekan dalam sebuah aksi nyata, maka potensi waktunya mencapai 707,2 juta jam per tahun. Dengan valuasi profesional Rp 100.000 per jam, potensi ini bernilai sekitar Rp 70,72 triliun per tahun.
Lebih lebih jika 5 persen dari 3,4 juta tersebut adalah professional yang berpengalaman seperti guru, ASN, dokter, pengusaha, dosen, manajer, atau konsultan, maka ada sekitar 170.000 orang yang dapat menjadi mentor.
Jika masing-masing memberikan 2 jam per minggu saja, dengan asumsi nilai mentoring Rp 500.000 per jam, potensi human capital tersebut mencapai sekitar Rp 8,84 triliun per tahun.
Lebih besar lagi adalah modal sosialnya. Jika satu senior citizen memiliki pengaruh kepada 30 orang, melalui keluarga inti, kerabat dekat, dan komunitas, maka 3,4 juta senior citizen dapat membuka potensi 102 juta hubungan sosial. Ini tentu bukan angka yang kecil. Ini adalah jejaring pengaruh setara sepertiga populasi Indonesia.
Bila gerakan ini kejadian, ini adalah gerakan peradaban. Gerakan untuk mengubah pandangan anak bangsa melihat usia. Gerakan untuk menghubungkan pengalaman generasi tua dengan energi generasi muda.
Kita tau, generasi milennial dan Gen Z unggul dalam digitalisasi, produktivitas, konsumsi, dan speed. Namun senior citizen punya keunggulan dalam pengalaman, waktu sosial, kebijaksanaan, jejaring dan kedalaman makna. Keduanya tidak perlu dipertentangkan, justru direlasikan. Yang tua mengarahkan, yang muda mempercepat.
Bagaimana memulainya?
Gerakan ini tidak harus menjangkau seluruh lansia sekaligus. Fokus awal dapat diarahkan kepada senior citizen yang masih aktif, sehat, berjejaring, terkoneksi internet, dan yang paling penting adalah memiliki waktu luang, memiliki pengalaman profesional, dan punya dorongan untuk membangun legacy.
Segmen awal yang paling memungkinkan adalah senior citizen mapan dan terkoneksi internet. Tentu koneksi cepat hari ini adalah menyebarkan gagasan melalui internet dengan berbagai kampanye di platform. Baik itu social media, channel platform online hingga tulisan. Data lansia yang terkategori mapan diantara populasi lansia mencapai 20% dan yang terkoneksi internet sekaligus ada sekitar 4,6 juta jiwa.
Gagasan besar ini tidak cukup hanya menjadi narasi. Ia harus dilembagakan. Dibutuhkan entitas yang mampu menjadi inisiator, pembangun dan penyebar narasi. Melakukan setup platform database senior citizen, menjadi legacy hub, pengelola pilot project dan program, penyusun impact report, serta siapa yang bertugas mengadvokasi di level kebijakan.
Posisi lembaga ini bukan mengambil alih peran pemerintah. Justru ia hadir sebagai gerakan masyarakat sipil yang memperkuat ekosistem pembangunan nasional.
Semoga, “Buy Back Your Time” bukan sekadar slogan. Ia adalah ajakan moral. Ajakan kepada para senior citizen untuk membeli kembali waktu mereka dari rasa tidak relevan, dari ruang sunyi pasca-pensiun, dari perasaan bahwa masa kontribusi telah selesai.
Masa kontribusi belum selesai, Bapak dan Ibu.
Bangsa ini masih membutuhkan banyak insight dari pengalaman. Anak-anak muda terus membutuhkan arah. Masyarakat masih menanti penjaga nilai.
Indonesia sangat membutuhkan orang-orang yang telah melewati setiap fase kehidupan dengan hati yang tidak sempit melihat orang lain dan bangsanya semakin berkembang.
Indonesia hingga 2050 mendatang, memasuki fase bonus pengalaman nasional secara bertahap.
Pertanyaannya, apakah kita akan membiarkan senior citizen menjadi beban di masa depan, atau mengubahnya menjadi kekuatan besar pembangunan?
Jawabannya bergantung pada kemauan dan keberanian kita untuk segera memulai.

Komentar
Posting Komentar