Terima Kasih Bang Jek Atas Pelajarannya

Sore itu (Jumát, 21 Agustus 2026), di tengah istirahatku pulihkan badan yang sedang tak karuan. Istriku membangunkanku sejenak. "Bi (Abi), bang Zaki meninggal dunia." Lirih istriku bisikkan kabar itu di telinga kananku.

Aku memilih diam, tak beri respon apapun. Apalagi histeris. Tidak

Aku memilih merenung sejenak.

"Allah ingin aku terima "pesan dan pelajaran" apalagi dari takdirNya yang ini?" pikirku

Sore itu, badan sedang tidak bisa diajak ambil tindakan gesit, sekedar untuk jadwalkan rencana takziyah ke rumah duka. Akhirnya, media sosial-lah yang kubuka untuk cari informasi terkini kabar dari istriku itu.

Sejak memasuki peran profesional di dunia filantropi, aku tak pernah berinteraksi langsung dengan almarhum Ahmad Zaki, Founder Gerak Bareng. 

Tapi sejak memasuki peran professional ini, nama almarhum semasa hidupnya, wajah almarhum, hingga aksi-aksi almarhum untuk kemanusiaan, lebih-lebih saat Indonesia dan dunia sedang alami bencana, eksposure almarhum tak pernah absen lewat di beranda sosial mediaku. Baik FB maupun IG. Aku tak main Tiktok by the way.

Di dunia filantropi, di sektor kebencanaan dan kemanusiaan khususnya, sangat dituntut peran cepat tanggap dan leadership yang very strong. Sebab, pertolongan cepat di fase tanggap darurat, menentukan keberhasilan fase awal para penyintas bencana. Sehingga, tak banyak yang memiliki kecakapan teknis, keahlian merespon, tau peran, sekaligus emergency basic leadership di lapangan di spot bencana.

Bang Jek (begitu sapaan hangat rekan-rekan almarhum sehari-hari setauku), punya prasyarat itu sebagai seorang relawan kemanusiaan dan juga sebagai seorang leader bagi relawan lainnya di medan bencana. Tak hanya bagi relawan di lembaga yang ia dirikan (Gerak Bareng). 

Dari mana aku ambil kesimpulan itu? Dari media sosialku. Terasa sekali. Meski melalui proses mengamati 1 - 2 menit melihat konten beliau yang lewat. Tapi, proses pengamatan ini berulang-ulang. Setidak-tidaknya dalam setiap peristiwa bencana kemanusiaan yang dialami Indonesia dalam 5 tahun terakhir. 

Aku merasa kesimpulanku valid. Aku yang validasi sendiri. Hati alat ukurnya.

Melihat gelombang manusia yang secara sukarela bersaksi atas segala kebaikan beliau adalah bukti kehadiran aksi kemanusiaan bang Jek begitu terasa. 

Bukan sekedar angka dampak di atas kertas yang almarhum biasa laporkan sebagai bentuk pertanggungjawaban.

Duka mendalam yang banjir di media sosial dari berbagai Civil Society Organization hingga pemerintah, lebih-lebih individu adalah bukti. 

Duka mendalam yang diwakili orang yang hadir sesaki jalan di seluruh rute prosesi pemulasaran jenazah almarhum, sejak tiba di bandara hingga dikebumikan di TPU Sukabumi Selatan di wilayah Jakarta Barat adalah bukti. 

Duka mendalam yang diekspresikan dalam beragam bentuk, screenshot percakapan, ungkapan kesedihan, kesaksian baik orang lain terhadap almarhum adalah bukti. 

Sekali lagi, duka nasional ini adalah bukti. 

Bahwa dampak kerja-kerja filantropi yang telah Bang Jek lakukan selama berjibaku di dunia kemanusiaan adalah dampak yang tidak berhenti di dalam isi sebuah laporan tertulis.

Bang Jek telah buktikan peran filantropi bisa beri dampak bahkan sampai ke relung hati terdalam manusia yang menerima aksi baiknya. 

Bahkan menembus kepada yang hanya menyaksikannya (Aku, yang belum pernah tatap dan jabat erat tangannya). 

Allahummaghfirlahu warhamhu waafihi wa'fuanhu

Selamat beristirahat dan berbahagia Bang Jek di dalam Syurga yang telah Allah janjikan kepada hamba-hambaNya yang beriman. 

Tuntas sudah peranmu beri aku satu pelajaran yang kelak jadi bekalku mengambil tanggungjawab sebagai philanthropist yang benar-benar jujur berbuat untuk kemanusiaan dan dunia yang lebih lebih baik di masa depan.

Terima kasih Bang Jek

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Pernah Iri, Kecuali. . .

Hati Tetap Tenang. Tak Peduli Sedang Sempit atau Lapang Harta

Sesal Ini Semoga Masih Punya Arti