Postingan

Sesal Ini Semoga Masih Punya Arti

Setiap kali jelang-jelang ramadhan berakhir, selalu saja ada ruang untuk perasaan menyesali waktu yang berlalu. Sesal karena ada saja momen kesempatan waktu ibadah yang lewat begitu saja tanpa dimaksimalkan dengan baik. Sesal karena ada saja kekurang-optimalan dalam taat di tengah dorongan ganjaran keutamaan dan pahala yang berlipat ganda.  Setiap kali ramadhan, begitu terus berulang-ulang setiap tahunnya. Di penghujungnya selalu menyisakan perasaan ketidakmampuan dan ketidakberdayaan dalam mengelola nikmat waktu.  Merasa persiapan pra ramadhan sudah dilakukan sedemikian rupa, tetap saja pada saatnya (melalui ramadhan) ada cela atau kesia-siaan yang dilakukan. Aku membayangkan bila kesempatan waktu ramadhan adalah miniatur kesempatan waktu dalam episode kehidupan yang telah Allah berikan, dan episode kehidupan itu tidak bisa diulang kembali sebagaimana belum tentu kita bisa sampai lagi kepada ramadhan berikutnya, maka betapa rasa penyesalan itu sungguh sesuatu yang sangat meng...

I'tikaf; Booster Fase Pupasi Seorang Mukmin

Gambar
Memasuki 10 akhir ramadhan 1447 H, kembali kita diserukan terhadap sunnah Rasulullah shallaallahu alaihi wasallam yakni I'tikaf. I'tikaf tentu punya syarat dan rukunnya yang diatur oleh syariat melalui Fiqh Ibadah.  Tanpa bermaksud mengesampingkan pentingnya pembahasan aspek fiqh I'tikaf, aku sedang ingin memilih bahas mengapa syariat I'tikaf ini ada, dicontohkan Nabi dan disunnahkan kepada umatnya, terlebih di 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Lebih karena ingin memaknai, menghayati yang lebih hakikat selain memenuhi semua syarat dan rukunnya sebagai sebuah ibadah (ritual). Agar outcomenya juga tercapai, sebagaimana harapan dari ibadah itu sendiri. Yaitu terjadinya perubahan kesadaran diri. Diawali dari perubahan pada suasana hati, jiwa dan kesadaran bahwa ibadah hakikatnya adalah manifestasi penghambaan kepada Rabbnya. Kalau kita mulai dari sebuah pertanyaan, mengapa perlu (i'tikaf), terlepas dari ini sebagai sebuah sunnah Nabi, maka rasionalitas kita akan terpi...

Status WA wkwkw

Parameter bhw penghasilan halal itu pasti membawa serta keberkahannya. Check in your self, Tidak ragu sedikitpun saat memperolehnya, mensyukurinya senantiasa, menenangkan jiwa, menambah ketaatan. Perhatikan dampaknya, mungkin di orangtua, istri/suami, anak-anak. Setiap potongan peristiwanya, semakin bertambah syukurnya bukan pd banyak / sedikitnya. Jika parameternya (penghasilan harta halal) dikuantifikasi, dg memeriksa pd smw aspek kehidupan yg sdg kita terima itu luar biasa banyak Istri/suami yg menenangkan jiwa, anak2 yg shalih2 shalihah, kesehatan yg terjaga, bertemu dg org2 shalih, punya waktu cukup utk ibadah dan bersamai keluarga dst betapa mahalnya smw nikmat2 tsb harus dibayar hari-hari ini. Sayangnya (ttp atas izin Allah), kita sdg hidup di era / sistem (buatan manusia) yg meminta kita percaya, bahwa banyak itu baik dan mungkin terhormat, sdgkan sedikit itu tidak baik/sengsara dan dianggap hina shg, smw berlomba2-lah saling "mematikan" satu sama lain. Shg, sebut saj...

Renunganku Pagi Ini

Media sosial hari ini kan sedikitnya menyingkap berbagai karakter setiap hamba Allah melalui segala sikap dan perilakunya. Saat kamu melihat ada hamba Allah yang menurutmu sangat kentara mencari validasi sosial, narsistik (menurutmu), percayalah sikap itu muncul tidak serta merta. Aku meyakini bahwa ada peristiwa di masa lampau yang berdampak secara jangka panjang, hingga menjadi sikap, perilaku atau bahkan sudah menjadi karakternya hari ini.  Apa peristiwa itu? boleh jadi karena ia telah melewati masa-masa sulit di dalam keluarganya. Mungkin orangtuanya yang broken, sehingga ia tidak mendapatkan kasih sayang dan pengakuan yang cukup di masa lalu.  Sehingga, rasa haus pengakuan dan validasi di masa lalu membuat jiwanya terus menerus menagih haknya hingga hari ini, untuk mencukupi kebutuhan psikisnya sebagai usaha menjaga eksistensinya dirinya sebagai manusia. Ada lagi. Hamba Allah yang menurut kita sangat berambisi terhadap harta, sehingga terkadang kita anggap menabrak etika....

Tidak Pernah Iri, Kecuali. . .

Demi Allah saya tidak pernah iri dengan mereka yang hidupnya tampak bermegah-megah dalam harta memiliki aset tidak bergerak dimana-mana memiliki deretan mobil mewah di garasinya dan hidup dalam popularitas yang banjir pujian setiap waktunya Aku hanya iri pada mereka yang secara kasat mata tampak orang-orang biasa saja bukan seorang yang kaya harta apalagi punya kendaraan mewah ataukah lagi populer di mata manusia bahkan tempat tinggal merekapun masih sewa kendaraan mereka hanya roda dua yang sangat sederhana tapi tampak sekali mereka menjalani setiap episode kehidupannya, yang dicari hanya kasih sayang Allah. yang dicari hanya ridho dari Rabbnya mereka terima setiap rizki dariNya dengan penuh rasa syukur yang demikian mendalam setiap rizki halal yang ia terima dari ikhtiarnya bekerja, kemudian diolah dengan penuh cinta oleh istrinya menjadi makanan halal, yang disuapi ke dalam mulut anak-anaknya dan hanya kalimat Alhamdulillah yang terucap sesudahnya waktu-waktunya tampak habis untuk b...

Hati Tetap Tenang. Tak Peduli Sedang Sempit atau Lapang Harta

Kalaulah ketenangan dan kebahagiaan itu ada di dalam hati,  mengapa kita masih saja berorientasi, meyakini dan meletakkannya letaknya pada harta yang melimpah, rumah yang megah dan kendaraan yang mewah? hari-hari ini aku semakin terus diyakini kebenaran atau fakta itu bahwa bahagia itu letaknya di hati yang dengannya hidup menjadi jauh lebih tenang tanpa khawatir atau risau terhadap masa depan yang berlebihan ketenangan hati tidak dijajakkan atau dijual di dealer-dealer mobil mewah ketenangan hati tidak include dalam value produk properti dan ketenangan hati tidak melekat pada harta yang kita telah dan belum dimiliki tapi ketenangan hati muncul pada saat kita tak lagi risau sama sekali tentang apapun yang sedang terjadi pada diri kita di dunia ini sebab seluruhnya telah digantungkan pengurusannya kepada Rabbul Izzati, Allah azza wa jalla Maka, untuk merasakan ketenangan hati secara berulang-ulang di setiap waktu datangilah Sang Pemilik Hati (Allah) bermesraanlah dengan terus menyeb...

Makin Sadar

Makin kesini makin menyadari, bahwa utuk perkara dunia kita hanya perlu mempertajam setidaknya 1-2 keahlian yang jadi strenght point kita. menjadi positioning kita sebagai seorang manusia yang hidup di dunia, sekaligus menjadi pembeda strenght point yang secara konsisten kita terus asah agar menjadi expertnya dan up to date perkembangannya dengan konsisten belajar.  Lalu, memperkayanya dengan latihan, menambah jumlah durasi atau jam terbang dan perbanyak action di bidang keahlian kita itu menjadi sebuah manifestasi atau karya kita Bagaimana keahlian atau bidang lain diluar expertis kita? ya cari aja orang lain yang punya keahlian itu reach out mereka, engage mereka, collab sama mereka gak cukup waktu agaknya kalau kita "terlalu rakus" untuk expert di semua hal yang kita anggap kita bisa seperti seolah kita mau unggul dari semua orang. gak mau kalah dan terkalahkan. atau bahkan hanya demi untuk narsis dengan mencari validasi dan pengakuan dari orang lain.  Demi kata "Heba...