Renunganku Pagi Ini

Media sosial hari ini kan sedikitnya menyingkap berbagai karakter setiap hamba Allah melalui segala sikap dan perilakunya.

Saat kamu melihat ada hamba Allah yang menurutmu sangat kentara mencari validasi sosial, narsistik (menurutmu), percayalah sikap itu muncul tidak serta merta.

Aku meyakini bahwa ada peristiwa di masa lampau yang berdampak secara jangka panjang, hingga menjadi sikap, perilaku atau bahkan sudah menjadi karakternya hari ini. 

Apa peristiwa itu? boleh jadi karena ia telah melewati masa-masa sulit di dalam keluarganya.

Mungkin orangtuanya yang broken, sehingga ia tidak mendapatkan kasih sayang dan pengakuan yang cukup di masa lalu. 

Sehingga, rasa haus pengakuan dan validasi di masa lalu membuat jiwanya terus menerus menagih haknya hingga hari ini, untuk mencukupi kebutuhan psikisnya sebagai usaha menjaga eksistensinya dirinya sebagai manusia.

Ada lagi. Hamba Allah yang menurut kita sangat berambisi terhadap harta, sehingga terkadang kita anggap menabrak etika.

Lagi-lagi, boleh jadi karena ia telah melewati trauma masa lalu di dalam keluarganya yang sangat terhimpit secara ekonomi.

Sehingga, trauma itu menjadi bahan bakar yang terus mengisi ruang jiwanya agar keluarganya hari ini tidak merasakan nasib yang sama sebagaimana yang ia rasakan dulu.

Keputusan ekonominya hari ini sebagai langkah keinginan untuk aman (safety mechanism) karena juga dipengaruhi oleh memori atau trauma finansial di masa lalu.

Ada lagi seorang hamba yang kau anggap sangat people pleaser. Tampak seperti tidak punya prinsip hidup, sebab apa yang orang lain katakan kepada dirinya atau permintaan orang lain kepada dirinya, serta merta ia turuti, tanpa mengindahkan bahkan rela mengorbankan nasib dirinya sendiri di masa mendatang.

Boleh jadi karena ia telah melewati masa-masa pengasuhan dari orangtua atau keluarga yang penuh tuntutan dan cinta yang bersyarat (akan dicintai kalau lalukan ini itu dulu). 

Boleh jadi pula karena ia pernah melewati masa-masa perundungan (bullying) yang menghancurkan kepercayaan dirinya (self esteem). 

Sehingga, sikapnya hari ini yang takut berkata "tidak" adalah bentuk usaha mencari rasa aman dan diterima lingkungan.

Berbeda lagi dengan yang kehidupannya sejak pengasuhan orangtua dulu tanpa luka yang mendalam, kehidupan yang stabil, kasih sayang dan pengakuan yang cukup. 

Sehingga kehidupannya hari ini lebih stabil. Karakter yang tumbuh seiring perjalanan hidupnya membentuk dirinya. Melalui beragam pelajaran, pengalaman dan latihan.

Sehingga, sebenarnya jika orang-orang seperti ini tidak memiliki visi hidup yang jelas, maka kehidupannya menjadi biasa-biasa saja.

Kenapa tiba-tiba aku merenungkan ini?

Pagi ini, aku sudah di tahap bahwa setiap hamba Allah yang hadir dalam kehidupanku dengan segala kebaikan dan keburukannya, adalah realitas bagiku sendiri. 

Realitas apa yang dimaksud?

Ya, realitas bahwa semua yang ada di hadapanku, itu semua hanya lakon yang telah Allah susun ceritanya, dramanya, skenarionya, setnya. Sebagai ujian bagiku. 

Apa yang Allah harapkan?

Ia mau lihat responku. Allah mau lihat caraku memandangnya. Allah mau lihat caraku bersikap dan Allah beri kesempatan untuk diriku menjadikannya wasilah untuk menambah pundi amal kebaikan, kalau responku juga baik dan bersikap dengan sikap yang Allah ridhoi. 

Bila sebaliknya, Allah beri ganjaran pula dengan ketetapanNya. 

Sehingga, apa sejatinya kehidupan ini kemudian?

Ya, panggung ujian.

Sebagai wasilah, apakah ujian ini akan dikerjakan dengan sebaik-baiknya jawaban. 

Yang kelak, jawaban itulah yang akan dibawa untuk dijelaskan di hadapan Allah, Sang Pembuat perSoalan kehidupan.

Potongan ujian ini berkontribusi dan menjadi salah satu penentu, apakah kita layak kembali ke dalam syurga setelah menjelaskan dengan jawaban yang sebaik-baiknya.

Maka, hari-hari ini, jika resah terhadap perilaku orang lain terhadap orang lain pula, atau bahkan perilaku buruknya sampai kepada kita, 

kita pandanglah dirinya sebagai hamba Allah. Yang juga telah melewati serangkaian peristiwa yang mempengaruhinya, dan itu semua juga atas izin Allah. 

Sehingga, kita sebenarnya tidak perlu terluka.

Responlah, bersikaplah, berakhlaklah dengan yang Allah ridhoi saja.

Bismillah, hidup semakin damai bila semua kita kembalikan kepada Allah.

Sebab Allah Maha Melihat kita, bahkan jauh pada apa yang terbetik dalam hati kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Konsep Dasar Akuntansi

Hati Tetap Tenang. Tak Peduli Sedang Sempit atau Lapang Harta

Tidak Pernah Iri, Kecuali. . .