I'tikaf; Booster Fase Pupasi Seorang Mukmin


Memasuki 10 akhir ramadhan 1447 H, kembali kita diserukan terhadap sunnah Rasulullah shallaallahu alaihi wasallam yakni I'tikaf.

I'tikaf tentu punya syarat dan rukunnya yang diatur oleh syariat melalui Fiqh Ibadah. 

Tanpa bermaksud mengesampingkan pentingnya pembahasan aspek fiqh I'tikaf, aku sedang ingin memilih bahas mengapa syariat I'tikaf ini ada, dicontohkan Nabi dan disunnahkan kepada umatnya, terlebih di 10 hari terakhir di bulan Ramadhan.

Lebih karena ingin memaknai, menghayati yang lebih hakikat selain memenuhi semua syarat dan rukunnya sebagai sebuah ibadah (ritual).

Agar outcomenya juga tercapai, sebagaimana harapan dari ibadah itu sendiri. Yaitu terjadinya perubahan kesadaran diri. Diawali dari perubahan pada suasana hati, jiwa dan kesadaran bahwa ibadah hakikatnya adalah manifestasi penghambaan kepada Rabbnya.

Kalau kita mulai dari sebuah pertanyaan, mengapa perlu (i'tikaf), terlepas dari ini sebagai sebuah sunnah Nabi, maka rasionalitas kita akan terpicu untuk mencari jawabannya. 

Ya, kenapa perlu? 

Apa urgensinya? Sebenarnya ibadah ini diset sebagai sunnah yang dianjurkan, apa outcomenya? apa tujuan Allah mensyariatkan ini melalui teladan nabiNya?

Mari kita list pertanyaannya satu-satu:

  • Apa urgensinya?
  • Apa outcomenya? 

mengapa pertanyaan ini penting bagiku?

Karena aku yakin, Allah itu menurunkan syariat pasti disertai dengan outcome yang justru kebaikan atau benefitnya kembali kepada kita sebagai hamba. 

Kita tau, bahwa Allah tak butuh dan tak hilang ke Maha Kuasa-annya even kita tak ibadah sekalipun.

Maka, mencari tau outcomenya apa (semampu kita bernalar) adalah upaya agar kita melakukan ibadah, tidak semata-mata terjebak pada menyelesaikan rukunnya saja. 

Lebih dari itu, kita berharap, ada makna yang bisa diraih untuk memperbaiki kehidupan kita, dimulai dari hati/jiwa kita.

---

Aku sendiri bingung, mulai mencari jawaban dari mana.

Tapi aku coba mulai dari akhir. Apa tujuan syariat puasa ramadhan? Menjadi insan Bertaqwa, jawabnya.

Sebagaimana firman Allah dalam Al Quran;

"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS Al Baqarah 183)

Bila ujung dari Puasa Ramadhan yang diharapkan (outcome) adalah Taqwa, maka dengan demikian, Taqwa adalah versi terbaik dari seorang hamba (muslim dan mu'min). Versi terbaik seorang hamba itu adalah versi paling indah, dicintai Tuhannya, dicintai hamba-hamba yang lain dan berperan sebagaimana penciptaannya. 

Jika kita memerlukan perumpamaan untuk memudahkan penjelasan versi terbaik sebagai sebuah makhluk, apa analogi makhluk lain yang cukup indah yang dekat dengan sekitar kita?

Aku memilih Kupu-Kupu. 

Ya, ia (kupu-Kupu) mewakili keindahan dan bahkan menjadi indikator kesehatan dan kesimbangan lingkungan/ekosistem. Kita lihat sayapnya yang indah, lembut disentuh dan mendecak kekaguman bagi yang memandangnya. 

Aku memilih kupu-kupu sebagai perumpamaan manusia sebagai seorang hamba yang bertaqwa. Sebagai fitrah penciptaannya, sebagaimana fitrah penciptaan kupu-kupu di dunia.

Lalu, bagaimana kupu-kupu bisa seindah itu? Seperti apa proses transformasinya?

Ternyata, jika kita pelajari proses transformasi kupu-kupu, metamorfosis dalam istilah ilmiahnya, kupu-kupu tidak diciptakan serta merta (instan) langsung indah.

Ia telah melewati metamorfosis setidak-tidaknya 4 fase utama. Pertama, fase telur. Yang disimpan kupu-kupu dewasa (induknya) di bawah dedaunan, tempat dimana kelak nantinya daun itu menjadi makanan pada fase berikutnya. 

Fase kedua, Larva. Sebentuk ulat yang kadang kehijauan atau kecoklatan yang juga tergantung tempat ia berada sebagai usaha kamuflase dari serangan predator (pertahanan diri). 

Pada fase ini, Larva memakan daun dengan rakus, memiliki penampilan yang tidak begitu menarik, bahkan bagi sebagian kita tampak menjijikan.

Fase ketiga, Pupasi/Kepompong. Sebutan lainnya, dalam bentuk krisalis. Setelah beberapa minggu makan, berganti kulit, dan tumbuh, ulat akan memilih area yang terlindungi untuk membuat kepompongnya dan akan memintal benang untuk menempelkan dirinya ke daun atau ranting. 

Proses pupa ini terjadi umumnya selama 12 hari (8 - 15 hari), tergantung suhu di sekitarnya. 

Apabila berada pada suhu hangat, maka proses pupa terjadi secara normal bahkan lebih cepat, sedangkan pada suhu dingin mengakibatkan proses menjadi lebih lama. Bahkan ada yang bisa mencapai durasi selama 2 tahun, tergantung jenis spesies. 

Fase keempat (terakhir), barulah kepompong bertransformasi menjadi kupu-kupu baru/muda yang siap melakukan penerbangan pertama hingga tumbuh menjadi dewasa, menjalani perannya sebagai penyerbuk tanaman, penyeimbang rantai makanan dan indikator kesehatan ekosistem karena sensitivitasnya terhadap perubahan lingkungan.

Dari lifecycle atau metamorfosis kupu-kupu, kita bisa mengambil pelajaran, ibrah dan hikmah. Bahwa untuk menjadi versi terbaik harus siap menjalani prosesnya yang tidak bisa instan. 

Fase pupasi merupakan fase transisi yang krusial dalam lifecyle kupu-kupu. Kecepatannya tergantung banyak variabel. Jenis/spesiesnya itu sendiri dan suhu. 

Apa yang terjadi selama proses Pupasi? serangga berhenti makan dan minum (puasa) karena fokus pada transformasi diri. Saat larva berada pada tahap pupa, ia melepaskan enzim yang menghancurkan sebagian besar jaringannya sendiri. 

Otot, organ, dan jaringan tubuh larva larut dan berubah menjadi cairan kental yang kaya nutrisi, yang sering disebut sebagai "sup" atau "bubur" biologis.

Pada proses ini (pupasi), kita juga mengenal yang disebut imaginal disc (cakram imaginal). Merujuk pada beberapa literatur ilmiah, Cakram imaginal (imaginal disc) merupakan kumpulan sel epitel yang masih belum mengalami diferensiasi pada tahap larva serangga holometabola, yaitu serangga yang mengalami metamorfosis sempurna seperti lalat, kupu-kupu, dan kumbang. 

Kelompok sel ini berfungsi sebagai calon pembentuk struktur tubuh serangga dewasa (imago). Pada fase pupasi, sel-sel tersebut mengalami pertumbuhan, perkembangan, serta diferensiasi secara cepat untuk membentuk berbagai bagian luar tubuh imago, seperti sayap, kaki, antena, dan mata. 

Sementara itu, sebagian besar jaringan larva mengalami proses histolisis, yaitu penghancuran atau degradasi jaringan.

Singkatnya, imaginal disc merupakan semacam “cetak biru” tubuh dewasa yang tetap dorman pada tahap larva, lalu diaktifkan ketika memasuki fase pupa untuk membangun tubuh serangga dewasa dari struktur larva.

Proses Pupasi ini menarik perhatianku. Sepertinya Allah mendesain ramadhan sebagai fase pupasi bagi orang-orang beriman. 

Sebuah mekanisme dan syariat yang diperintahkan tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan semua hawa nafsu yang kita memiliki bakatnya di dalam penciptaan kita, untuk kemudian dikendalikan dan hanya bakat baiknya saja (taqwa) yang muncul ke permukaan sebagai versi terbaik kita sebagai seorang hamba beriman. 

Dengan demikian maka, ramadhan ini adalah saat-saat paling berharga yang dipersiapkan Allah kepada hamba-hambaNya untuk menjadi versi terbaik mereka, yakni Taqwa. 

Perumpamaan pupasi dengan ramadhan begitu cocok karena memiliki kemiripan proses. Sebut saja persamaannya pada kata kunci berikut; puasa (tidak makan minum), fokus transformasi imaginal disc, meleburkan diri. 

Pada syariat puasa Ramadhan, kita juga diperintahkan untuk menahan makan, minum dan hawa nafsu lainnya. Diharapkan bertransformasi dari hamba yang beriman menjadi hamba yang bertaqwa, dan meleburkan diri kembali kepada fitrah penciptaannya. 

MasyaAllah, laa hawla walaa quwwata illa billah...

Sehingga, I'tikaf di 10 hari terakhir ramadhan, sebagai etape terakhir maraton ibadah kita, adalah booster untuk memastikan proses pupasi terjadi dengan seharusnya. 

Dimana, pada i'tikaf kita menjalin keakraban dengan Allah subhanahu wataala saja dengan menyendiri. Merenungi kembali kehidupan kita, mengadukan segala hajat kehidupan kita, memohon ampunan dan pertolongan, hanya kepada Rabb kita. 

Di waktu-waktu yang hening, di suasana yang sepi. Hanya merasa berdua dengan Allah saja. 

Saat i'tikaf, adalah saat-saat dimana kita meluruhkan semua hawa nafsu kita. Meluruhkan keangkuhan, kesombongan, dan semua perkara yang mengotori hati selama ini. Iri, dengki, prasangka buruk, hasad. 

Sembari mengisi waktu-waktunya dengan rangkaian ibadah wajib dan sunnah. Shalat, berdzikir, salawat, tilawah Al Quran, shalat sunnah tarawih, shalat sunnah Tahajud, Shalat Sunnah Hajat, Shalat Sunnah Taubat dan lain sebagainya. 

Intinya adalah bagaimana kita melakukan 2 hal ini pada saat i'tikaf; pertama, memutus hubungan semaksimal mungkin dengan makhluk. Merasakan kedekatan, keakraban dengan Allah. Dengan suasana batin nanti, tersadar harapan ketika di alam kubur nanti di saat kesendirian, Allah menolong kita.

Kedua, menjadi obat dari segala gesekan selama ini akibat terlalu sering berhubungan dengan makhluk lainnya. Yang tidak kalah penting adalah membangun kekuatan mental, ke depan, dalam menghadapi segala tantangan dan persoalan kehidupan, kita selalu dan hanya bergantung kepada Allah. Dimana hati, terus terpaut kepada Allah.

Apakah kita yakin bisa menjadi insan bertaqwa?

Ya, sebab Allah juga telah ciptakan kita dengan " imaginal disc" sebagaimana Ia ciptakan pula pada kupu-kupu di fase Larva. 

Perhatikan ayat berikut;

"Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya," (QS. Asy Syams : 8)

Di dalam tafsir Juz 'Amma / Syaikh Prof. Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan, anggota Lajnah Daaimah (Komite Fatwa Majelis Ulama KSA)

Jiwa itu terbagi menjadi dua macam, jiwa yang rusak karena keluar dari ketaatan kepada Allah ﷻ , atau jiwa yang bersih dengan ketaqwaanya kepada Allah, jiwa-jiwa tidak diciptakan pada kedudukan yang sama, dan ini merupakan tanda kekuasaan Allah ﷻ , Dialah yang menjadikan jiwa-jiwa itu dalam ketaqwaan atau kefasikan.

Setiap jiwa diciptakan dalam keadaan suci dari dosa, akan tetapi pemiliknya lah yang merubahnya, sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah : (( كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، حَتَّى يُعْرِبَ عَنْهُ لِسَانُهُ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ )) “Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah hingga ia fasih (berbicara), maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” [ Hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi ] .

Jika tarbiyah seseorang itu baik maka akan baik pula jiwanya, tetapi jika tarbiyahnya rusak maka akan rusak jiwanya, oleh sebab itu mengambil sebab kebaikan itu wajib dilakukan untuk menjadikan jiwa setiap insan lebih baik, perlunya tarbiyah yang baik dari kedua orang tua sejak anak usia dini, dan kesadaran dari diri sendiri untuk memperbaiki diri ketika usia telah dewasa dan berakal sehat.

Maka setiap insan harus pandai memilih jalan yang ia tempuh, apakah jalan itu baik ataukah sebaliknya, karena setiap langkah dan amalan hamba akan dipertanggung jawabkan di hari kiamat kelak, Allah berfirman : { مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ } ( Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya. ) [ Fussilat : 46 ] .

Maka, Allah melalui syariat Puasa di bulan suci Ramadhan, telah mempersiapkan setiap hamba beriman untuk menjadi media tarbiyah bagi dirinya sendiri, agar jiwa yang dominan adalah jiwa yang bersih dengan ketaqwaannya, bukan kefasikannya.

Melalui kepompong ramadhan, Allah mengharapkan " imaginal disc ketaqwaan kita" yang muncul di akhir ramadhan. Sehinga, 1 Syawal nanti, kita telah sampai pada versi terbaik dari kita sebagai hamba. 

Yang siap terbang kembali dengan kekuatan jiwa yang bersih dan sesuai fitrah penciptaannya, siap mengepakkan sayap akhlak yang indah bagi sesama, dan menjadi oase bagi masyarakat kita yang rindu suasana kedamaian, ketenangan dan keharmonisan.

Bismillah, mari kita persiapkan i'tikaf ini semaksimal mungkin, di tengah kesempatan waktu yang masih kita punya.

Adukan semua persoalan hidup dan hajat kita. Bila perlu tulis secars lengkap di kerta atau gadget. Jadwalkan "pembahasan" dan permohonan setiap harinya. Hanya berdua dengan Allah. Jadikan amalan-amalan ibadah sebagai harga yang harus dibayar untuk meminta ampunan dan memohon pertolongan.

Perhatikan syarat dan rukun i'tikaf agar memenuhi seluruh unsur sebagai sebuah ibadah (ritual) yang telah diatur syariat. 


Sempatkan, fokuskan, meski kita boleh jadi masih memiliki beberapa aktifitas lainnya yang menunjang kehidupan sehari-hari. Namun, bila memiliki keluangan waktu, maka itikaf 10 hari menjadi amat dianjurkan, karena hukum asalnya sunnah muakkadah. 

Tetapi bila ada sebab yang lain, bisa menjadi hukumnya wajib bila ada nazar dan menjadi makhruh bila meninggalkan perkara yang masih menjadi kewajibannya.

InsyaAllah, Allah Maha Melihat keseriusan kita, ikhtiar kita menjemput ampunan dan ridhonya di 10 hari terakhir Ramadhan ini dengan segala keterbatasannya. 

Keridhoan dan ampunan bukan monopoli bagi mereka yang bisa dan memiliki waktu luang berdiam diri di masjid selama 10 hari penuh. Tapi, keridhoan dan ampunan bisa sampai kepada siapa saja, termasuk kepada kita yang boleh jadi masih terpaksa menunaikan kewajiban-kewajiban peran kehidupan kita hari ini. 

Allah Maha Melihat kesungguhan kita, insyaAllah

----
Sumber foto : iStock
Sumber Mindmapping : Google Gemini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Konsep Dasar Akuntansi

Manusia (Insan) Sebagai Objek Kaderisasi

Hati Tetap Tenang. Tak Peduli Sedang Sempit atau Lapang Harta