Kaya Aktifitas, Miskin Bukti Perubahan - Bagian 1
![]() |
| sumber foto: iStock |
Penulis khususkan tulisan ini sebagai refleksi bagi diri sendiri, merenungi saat-saat masih bertugas di dalam ekosistem pegiat filantropi. Emang sekarang ngga ? ya masih juga..hahaa
Dalam perjalanan beraktifitas di dunia filantropi, penulis menyadari bahwa aktifitas di lembaga filantropi tidak kekurangan rekam jejak, dokumentasi, berita hingga output yang dihasilkan. Begitu banyak daftar kegiatan yang diselesaikan.
Aktifitas satu belum selesai pun, note aktifitas dua “sudah bunyi duluan alarmnya” dalam reminder kalender. Belum-belum aktifitas 1 di evaluasi, persiapan aktifitas 2 sudah menuntut briefing pelaksanaan. Begitu padat dan terjadi terus menerus sepanjang tahun, bahkan multi-tahun.
Saat itu, saat aktifitas selesai dilaksanakan, direkam-jejakkan, “dipamerkan” di kanal publikasi, rasa-rasanya tunai sudah amanah.
Namun, yang bikin terbelalak saat direnungi dan evaluasi. Mengapa, deretan angka puluhan aktifitas yang sudah diselesaikan, belum mampu mengerek grafik performa “retensi kepercayaan donor” (donor = donatur) menjadi sama positifnya dengan kenaikan performa jumlah aktifitas karitatif lembaga ? kok retensi donasinya ga ngangkat, bro.
Padahal output sudah ditunjukkan, jumlah beneficiaries sudah di-highlight, bentuk bantuan sudah diceritakan, dan jumlah dana disalurkan sudah transparan. Namun tetap saja, untuk menjangkau donor, baik untuk mengejar retensi maupun akuisisi donor baru, harus terus menerus investasi melalui belanja marketing melalui platform yang makin kesini makin tidak murah.
Di momen “frustasi” itulah, baru-baru akhirnya kami paham, bahwa kami sedang ambil posisi yang tidak seharusnya. Yakni, berekspektasi kepada donor, untuk “meminta percaya” berbekal done list aktifitas yang sudah dilaporkan. Sekali lagi kami istilahkan, “kami meminta kepercayaan donor.”
Kami nyata-nyata masih terus meminta kepercayaan, yang bahkan sejatinya kepercayaan itu sungguh sudah donor berikan sejak tombol donasi diklik dan donasi ditunaikan.
Kami lupa, donasi dalam bentuk tunai, in-kind, doa (sebagai dukungan immateri), sejatinya mengandung “nilai kepercayaan” yang kami yakini “nilai intrinsiknya” lebih besar dari valuasi nilai dukungan pendanaan itu sendiri (dalam satuan moneter).
Astaghfirullah (dalam hati), astaga (dalam kepala) sambil tepok jidat :)
Menyadari salah posisikan diri saat itu, penulis ambil langkah pivot dalam pendekatan kepada donor. Alih-alih yang sebelumnya kami “memaksa donor” untuk membaca aktifitas melalui sudut pandang kami, kami balik dan susun ulang bangunan kredibilitas lembaga dalam rangka membangun kepercayaan donor melalui kacamata donor. Apa ekspektasinya donor harus kami tangkap.
Apa diantaranya yang kami lakukan? Susun bahan-bahan publikasi bermuatan dampak atau perubahan. Ceritakan secara langsung dengan meminta validasi dari donor. Survei, meminta feedback, meminta masukan. Tak hanya lewat kanal informasi, tetapi kami lakukan juga melalui agenda-agenda silaturahim/kunjungan, sapa donor secara daring hingga rutin berkegiatan bersama, membangun relasi interpersonal antara donor dengan pengelola.
Dengan begitu, donor sangat bebas untuk bertanya dan kita leluasa untuk menjawab. Menepis keraguan membangun kepercayaan. Dengan apa membangun kepercayaan dengan demikian? Dengan membuktikan dampak atau perubahan.
Ya, kepercayaan seharusnya itu bukan diminta, tapi dibangun.
Sepanjang berorganisasi di dunia filantropi (bukan bermaksud generalisir), para organisator lembaga kerapkali belum memahami konsep dasar dan masih mencampuradukkan aktifitas, keluaran (output), hasil yang diharapkan (outcome) dan dampak atau perubahan (impact).
Secara konseptual, bahwa;
- dana tersalurkan merupakan input atau penggunaan sumber daya,
- kegiatan terlaksana semisal pelatihan adalah aktifitas,
- beneficiaries yang lulus adalah output
- meningkatnya keterampilan peserta adalah outcome, sedangkan
- peningkatan kesejahteraan peserta yang bertahan dalam waktu tertentu merupakan bagian dari dampak (impact) atau perubahan.
Kesemuanya ini menjadi komponen kunci (core) dari Teori Perubahan (A Theory of Change) sebagai framework dalam menjalankan misi organisasi untuk mencapai visi.
Akar masalah organisasi tidak mampu dalam membuktikan dampak perubahan aktifitas atau program, seringkali terjadi karena tidak adanya will (kemauan) dalam merancang dampak perubahan yang hendak dicapai, sejak fase perencanaan program.
Ya gimana bisa buktikan perubahan, lha wong sejak awal ngga mau. Adakah sesuatu terjadi tanpa didahului dari adanya kehendak ? (ini sy juga sambil mikir…he)
Bilapun aktifitas pengukuran untuk dapatkan bukti perubahan dilakukan (mungkin karena ada dorongan eksternal), dijamin bingung. Apa sebab ? Sebab aktifitas itu sejatinya nihil dari dampak yang hendak dicapai. Sehingga, keberhasilan tidak bisa diukur karena indikator keberhasilan sejak awal kabur/tidak jelas.
Lagi-lagi, menjadi refleksi para organisator di lembaga filantropi, apa intensi lakukan aktifitas itu sebenarnya. Kita mesti jujur pada diri sendiri. Bagi seorang muslim, jujur dalam intensi (niat) kepada Rabbul Izzati menjadi inti sebuah amal.
Itu dulu, nanti dilanjut (to be continued)

Komentar
Posting Komentar